Tes Fisik Atlet PON Beladiri Dimulai, KONI Lampung Tetapkan Standar Nasional

Tes Fisik Atlet PON Beladiri Dimulai, KONI Lampung Tetapkan Standar Nasional
Tes fisik calon atlet PON Beladiri Lampung

BACAGEH, Bandarlampung--Tak cukup jago bertarung. Fisik harus bicara. KONI Lampung mulai menguji kesiapan atlet bela diri untuk persiapan PON Bela Diri 2026 di Manado, Sulawesi Utara.

Tes fisik digelar di KONI Lampung, Kamis (20-8-2026). Empat cabor lebih dulu menjalani tes. Tinju, anggar, hapkido, dan kick boxing. Jumat (21-8-2026), giliran muaythai, kurash, dan Mixed Martial Arts (MMA).

Ketua Pelaksana Tes Fisik KONI Lampung Yopi Hutomo Bhakti menyebut hasil awal cukup menjanjikan. Kondisi fisik atlet dinilai meningkat dibanding persiapan PON Bela Diri sebelumnya.

“Secara kualitas fisik memang lebih baik dibandingkan PON Bela Diri sebelumnya. Dari beberapa indikator, mengalami peningkatan yang sangat signifikan,” kata Yopi.

Namun, tak semua atlet  otomatis lolos. KONI menetapkan nilai minimal 80 sebagai salah satu standar seleksi.

Seluruh hasil tes akan dikonversi dan diolah menjadi nilai akhir. Selain fisik, KONI turut melihat riwayat cedera, kesehatan, pengalaman, serta rekam prestasi di level nasional dan PON. Walau begitu, fisik tetap menjadi faktor utama.

“Hasilnya nanti kita serahkan kembali kepada cabang olahraga agar mereka mengetahui sejauh mana kondisi atletnya untuk mempersiapkan diri menghadapi PON Bela Diri,” terang Yopi.

Wakil Ketua Umum II KONI Lampung Riagus Ria menegaskan seleksi kali ini tanpa basa-basi. Hanya atlet dengan level fisik nasional yang berpeluang berangkat ke Manado.

“Kita ingin lebih selektif. Yang betul-betul level fisiknya sudah level nasional, itulah yang nanti akan kita kirim,” tegas Riagus.

KONI juga tak menetapkan kuota atlet per cabor. Semua ditentukan berdasarkan hasil tes dan proyeksi medali.

Mereka yang gagal memenuhi standar akan tersisih. Begitu pun yang lolos harus punya alasan kuat untuk dibawa.

Targetnya jelas: minimal satu medali emas dari setiap cabor yang diberangkatkan.

“Minimal harus satu medali. Kalau tidak ada target, untuk apa kita melakukan tes ini,” kata Riagus.

Artinya, tes fisik bukan sekadar formalitas. Namun gerbang awal menuju Manado. Atlet harus bugar. Cabor harus punya prospek dan medali menjadi ukuran akhirnya. (**)

Berikan Komentar