Dua Keris, Jejak Prajurit Diponegoro dan Awal Bagelen

Dua Keris, Jejak Prajurit Diponegoro dan Awal Bagelen
Lesmono Sekretaris Desa Bagelen dengan kris kembar warisan keluarga

BACAGEH, Gedongtataan--Lesmono membuka tempat penyimpanan pusaka di rumahnya. Dua keris tersimpan di sana. Bilahnya menjadi saksi bisu cerita yang diwariskan keluarganya selama beberapa generasi. Cerita tentang leluhur. Tentang perjalanan dari Jawa ke Lampung. Tentang orang-orang yang disebut pernah berada dalam lingkungan perjuangan Pangeran Diponegoro.

Lesmono yang menjabat Sekretaris Desa Bagelen itu tidak sekadar menyebutnya dua keris tersebut sebagai benda pusaka. Menurut cerita keluarganya, dua keris itu berkaitan dengan leluhurnya, Karto Redjo, yang pernah menjadi kepala kampung di Bagelen pada masa awal perkembangan desa itu. Karto Redjo tercatat memimpin Desa Bagelen pada 1907-1912. Dari garis keluarga itulah, menurut Lesmono, kedua keris tersebut diwariskan hingga sampai kepadanya. 

Bobotnya sekitar 1,5 kilogram. Usianya diperkirakan lebih dari dua abad.Tetapi belum ada penelitian ilmiah yang memastikan usia kedua keris tersebut. “Karena saya keturunan abdi dalem, keris itu diwariskan kepada keluarga,” kata Lesmono, Sabtu (19-9-2026). Dari dua bilah keris itulah, cerita kemudian bergerak jauh ke belakang. Lebih dari seabad.

Cerita dari Jawa

Dalam cerita yang diwariskan keluarganya, leluhur Lesmono disebut memiliki hubungan dengan lingkungan Padepokan Pangeran Diponegoro. Mereka disebut sebagai abdi dalem atau prajurit yang berada dalam lingkungan perjuangan Diponegoro. Cerita itu kemudian bertaut dengan sejarah awal pembentukan Desa Bagelen.

Lesmono menyebut, dari 43 orang yang pertama kali datang ke Bagelen, sebagian disebut memiliki latar belakang sebagai prajurit Diponegoro. “Kalau cerita dari keluarga, 43 orang itu bagian dari prajurit Diponegoro yang memang memiliki keris,” terangnya. Namun, Lesmono tidak menyebut cerita tersebut sebagai fakta sejarah yang sudah terverifikasi. 

Itu adalah penuturan keluarga. Cerita yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Begitu pula dengan dua keris yang kini disimpannya. Belum ada kepastian apakah keris tersebut pernah digunakan dalam perang Diponegoro. Bisa pula hanya merupakan pusaka keluarga yang kemudian ikut dibawa ke Lampung. Jawabannya belum ditemukan.

Dari Bagelen ke Bagelen

Sejarah Desa Bagelen memiliki titik yang lebih pasti. Tahun 1905. Pada tahun itu, Bagelen menjadi salah satu lokasi awal program kolonisasi penduduk Jawa ke Lampung pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Para pendatang berasal dari wilayah Bagelen, Kedu. Daerah tersebut kini berada dalam wilayah adminsitrarif Pemerintah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.Nama daerah asal itu kemudian dibawa ke Lampung. Menjadi nama permukiman baru yang mereka buka.

Rombongan pertama tiba pada 1905. Jumlahnya 43 orang. Terdiri atas 40 laki-laki dan tiga perempuan. Rombongan tersebut dipimpin seseorang bernama Tuan Eteeng. Mereka datang ke wilayah yang kala itu masih didominasi hutan. Lahan dibuka. Permukiman dibangun. Pertanian dikembangkan. Sebuah komunitas baru pun mulai tumbuh. Bagelen.

Baca juga: Dibawa Belanda, Berakar di Bagelen

Kedatangan penduduk tidak berhenti pada rombongan pertama. Pada 1906 tercatat 203 orang datang. Pada 1907 sebanyak 100 orang. Setahun kemudian, 500 orang kembali didatangkan.

Sedangkan jumlah pendatang pada 1909-1910 belum tercatat secara lengkap dalam sejarah singkat Desa Bagelen. Angka-angka itu menjadi bagian dari catatan resmi.Tetapi sejarah tidak selalu berhenti pada angka.

Benda yang Ikut Berpindah

Para pendatang tidak hanya membawa tenaga untuk membuka lahan. Mereka membawa kehidupan, keluarga, tradisi, ingatan dan benda-benda yang dianggap penting. Sebagian mungkin hilang dimakan zaman. Sebagian lain diwariskan. Dua keris milik Lesmono menjadi salah satu benda yang masih bertahan.

Di situlah kisahnya menjadi menarik. Bukan karena dua keris tersebut otomatis membuktikan hubungan dengan prajurit Diponegoro. Hubungan itu masih sebatas  cerita keluarga yang diwariskan turun-temurun. Tetapi benda tersebut membuka pintu untuk menelusuri sejarah yang lebih luas.

Siapa sebenarnya para pendatang awal Bagelen? Dari mana mereka berasal? Apakah ada di antara mereka yang memiliki hubungan dengan orang-orang yang pernah berada dalam lingkungan perjuangan Diponegoro? Apakah dua keris itu benar-benar ikut dalam perjalanan dari Jawa ke Lampung? Pertanyaan-pertanyaan itu belum memiliki jawaban pasti.

Sejarah yang Tersimpan di Rumah

Arsip kolonial dapat mencatat tahun. Dokumen dapat mencatat jumlah penduduk. Sejarah desa dapat mencatat nama pemimpin dan perkembangan permukiman. Namun, benda pusaka menyimpan sisi lain dari sebuah perjalanan. Sisi yang lebih dekat dengan manusia.

Dua keris itu adalah salah satunya. Kini keduanya berada di tangan Lesmono menjadi warisan keluarga dan cerita yang terus hidup. Benang merah yang menghubungkan masa lalu Jawa dengan Bagelen di Lampung.

Untuk membuktikan kisah tersebut, penelitian lebih jauh masih diperlukan. Cerita keluarga perlu dibandingkan dengan arsip kolonial. Asal-usul para pendatang perlu ditelusuri. Kedua keris juga perlu diteliti untuk mengetahui usia dan sejarahnya.

Bisa saja dua keris itu memang bagian dari perjalanan leluhur Bagelen atau hanya pusaka keluarga yang kebetulan ikut berpindah bersama para pendatang. Saat ini, jawabannya masih menjadi misteri.

Pastinya, sejarah Bagelen tidak hanya tersimpan dalam buku dan arsip. Sebagian masih hidup di rumah-rumah warga. Dalam ingatan keluarga dan mungkin, dalam dua bilah keris milik keluarga Lesmono. (rft)

Editor: Nizar

Berikan Komentar