BACAGEH, Bondowoso--Sejarah panjang kopi Ijen belum selesai. Lebih dari satu abad setelah kebun kopi Arabika dibuka di lereng Pegunungan Ijen, perkebunan itu masih menjadi sumber ekonomi, pekerjaan, dan kehidupan masyarakat.
Jejaknya bermula pada 1890-an. Pengusaha Belanda Gerhard David Birnie, membuka perkebunan kopi Arabika di kawasan Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. Perkebunan kemudian berkembang dengan komoditas tembakau.
Setelah Indonesia merdeka, perusahaan perkebunan tersebut dinasionalisasi. Pengelolaannya terus berubah hingga kini menjadi bagian dari PT Perkebunan Nusantara I (Persero), dalam Holding Perkebunan Nusantara.
Lebih dari sekadar kebun, kawasan Ijen menyimpan sejarah sosial dan ekonomi yang panjang. Pada masa itu, membuka perkebunan di lereng gunung bukan pekerjaan mudah.
Infrastruktur terbatas. Lokasi berada di ketinggian sekitar 1.100–1.550 meter di atas permukaan laut. Namun, kawasan itu justru dipilih karena kondisi alamnya cocok untuk kopi Arabika.
Para pengelola juga membangun ekosistem perkebunan. Tanaman keras dipertahankan di lereng. Kawasan hutan dijaga sebagai daerah tangkapan air. Lahan datar dimanfaatkan untuk komoditas lain.
Strategi itu ikut membentuk kehidupan masyarakat Ijen. Pekerja didatangkan dari berbagai daerah. Mulai Bondowoso, Banyuwangi, Jember hingga Malang.
Mereka tinggal dan bekerja di sekitar perkebunan. Dari sana tumbuh komunitas dan kultur khas kawasan Ijen.
Sejarah yang Masih Hidup
Kunjungan ke Kompleks Kebun dan Pabrik Kopi Ijen memperlihatkan, sejarah perkebunan bukan sekadar catatan tahun dan nama.
Di Jampit Guest House, misalnya. Bangunan yang berdiri sejak 1927 itu masih mempertahankan arsitektur klasik dan lantai kayu.
Bangunan tua, jalan perkebunan, tanaman kopi, hingga kehidupan pekerja, menjadi bagian dari sejarah yang masih berlangsung.
Di lereng Ijen, kopi bukan sekadar komoditas. Aiadalah pekerjaan. Ia menggerakkan ekonomi. Ia membentuk pengetahuan. Sekaligus menjadi bagian dari hubungan manusia dengan alam.
Dari perkebunan Blawan yang dahulu dikenal sebagai Mount Blau hingga Kalisat/Jampit, kopi Ijen berkembang menjadi komoditas yang menembus pasar Eropa.
Kini, pengalaman panjang itu menjadi modal penting bagi PTPN I dalam mengembangkan kopi Arabika.
Kualitas kopi tidak lahir dari satu faktor. Varietas, tanah, ketinggian, iklim, perawatan tanaman, hingga proses pascapanen saling menentukan. Alam menyediakan potensinya. Manusia mengelolanya.
Kopi dan Ekosistem
Kawasan yang dikenal sebagai Biosite Kopi Bondowoso mencakup perkebunan negara dan perkebunan rakyat di Kecamatan Ijen dan Sumberwringin.
Pegunungan Ijen-Raung menjadi salah satu sentra kopi Arabika penting di Jawa Timur.
Kopi dari kawasan itu dikenal memiliki keasaman menonjol, aroma kuat, serta sentuhan rasa manis menyerupai cokelat. Kopi Arabika Bondowoso juga telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis. Namun, kekuatan Ijen bukan hanya rasa.
Di antara tanaman kopi tumbuh berbagai tanaman penaung: suren, dadap, kayu manis, pinus dan kayu putih menjadi bagian dari ekosistem perkebunan.
Vegetasi tersebu membantu menjaga suhu dan kelembapan. Sekaligus menjadi habitat bagi fauna, burung dan serangga penyerbuk.
Karena itu, produksi dan kelestarian lingkungan tidak harus berlawanan. Keduanya justru saling menopang.
Perkebunan yang menjaga ekosistem memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang.
Nilai yang Lebih Panjang dari Produksi
Nilai Kebun Ijen tidak berhenti pada jumlah produksi. Ada pekerja yang menggantungkan pendapatan. Ada keluarga yang hidup bersama musim panen. Ada pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Roda ekonomi juga bergerak dari kebun hingga pengolahan dan distribusi. Karena itu, perkebunan negara memiliki nilai ekonomi sekaligus sosial dan ekologis.
Kini, tantangannya adalah bagaimana warisan tersebut menghasilkan nilai tambah lebih besar. Hilirisasi menjadi salah satu jalannya.
Nilai kopi tidak berhenti ketika biji keluar dari kebun. Produk olahan dapat membuka pasar dan nilai ekonomi baru.
Wisata agro juga dapat dikembangkan. Pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan Ijen, tetapi memahami perjalanan kopi sejak ditanam, dirawat, dipanen hingga menjadi minuman.
Edukasi menjadi bagian lain yang penting. Pengetahuan tentang kopi harus terus diwariskan agar tidak berhenti pada satu generasi.
Pada akhirnya, warisan terbesar Kebun Ijen bukan hanya tanaman kopi. Ada manusia. Ada pekerjaan. Ada ekonomi. Ada pengetahuan. Ada lingkungan dan sejarah yang terus bergerak.
Di lereng Ijen, sejarah bukan sekadar masa lalu. Sejarah itu masih bekerja. Masih menghidupi dan masih membuka harapan untuk masa depan. (**)
Berikan Komentar