Investasi Lampung Semester I 2026 Tembus Rp7 Triliun

Investasi Lampung Semester I 2026 Tembus Rp7 Triliun
Kepala Dinas PMPTSP Lampung Samsurijal

BACAGEH, Bandarlampung--Realisasi investasi di Provinsi Lampung sepanjang semester I 2026 mencapai sekitar Rp7 triliun atau 43,4 persen dari target tahunan sebesar Rp16,2 triliun yang ditetapkan pemerintah pusat. Capaian tersebut menunjukkan tren positif seiring meningkatnya investasi pada triwulan II.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Lampung, Samsurijal, mengatakan target investasi Lampung tahun 2026 yang ditetapkan Kementerian Investasi/BKPM mencapai Rp16,2 triliun.

"Hingga semester pertama, realisasi investasi kita sudah sekitar Rp7 triliun atau 43,4 persen dari target tersebut," ujar Samsurijal, Kamis (30-7-2026).

Pada triwulan I 2026, realisasi investasi tercatat sekitar Rp2,3 triliun atau 14,53 persen dari target tahunan. Memasuki triwulan II, nilainya melonjak menjadi sekitar Rp4,6 triliun, terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp1,3 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sekitar Rp3,3 triliun.

"Artinya, pada triwulan kedua terjadi peningkatan yang cukup signifikan dibanding triwulan pertama," katanya.

Secara nasional, capaian tersebut menempatkan Lampung di posisi yang cukup kompetitif. Untuk PMA, Lampung berada di peringkat keenam di Sumatera dan peringkat ke-24 nasional dengan 593 proyek yang menyerap 1.802 tenaga kerja Indonesia serta 34 tenaga kerja asing.

Sementara pada sektor PMDN, Lampung berada di peringkat kelima di Sumatera dan peringkat ke-20 nasional dengan 6.095 proyek yang menyerap 7.378 tenaga kerja Indonesia dan satu tenaga kerja asing.

Secara keseluruhan, terdapat 6.688 proyek investasi di Lampung pada semester I 2026. Proyek-proyek tersebut menyerap 9.180 tenaga kerja Indonesia dan 35 tenaga kerja asing, sehingga menempatkan Lampung di peringkat kelima se-Sumatera dan ke-22 secara nasional.

Dari sisi wilayah, Kabupaten Lampung Tengah menjadi daerah dengan realisasi PMA terbesar, yakni sekitar Rp972 miliar yang didominasi industri makanan. Posisi berikutnya ditempati Kota Bandarlampung dan Kabupaten Lampung Selatan.

Untuk PMDN, Kota Bandarlampung mencatat realisasi tertinggi mencapai sekitar Rp1,9 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari sektor jasa lainnya senilai sekitar Rp1,2 triliun, disusul Tanggamus dan Lampung Selatan.

Jika digabungkan antara PMA dan PMDN, Kota Bandarlampung menjadi daerah dengan total investasi terbesar di Lampung, yakni sekitar Rp2,17 triliun. Sektor jasa lainnya menjadi penyumbang utama sekitar Rp1,23 triliun, diikuti sektor transportasi, pergudangan dan telekomunikasi sekitar Rp490 miliar, serta hotel dan restoran sekitar Rp170 miliar.

Sementara itu, Kabupaten Pesisir Barat mencatat pertumbuhan investasi tahunan (year on year/yoy) tertinggi sebesar 205,16 persen yang didorong investasi pada sektor pengolahan kayu. Pertumbuhan berikutnya berasal dari Lampung Selatan sebesar 22,13 persen dan Lampung Tengah sebesar 7,12 persen, sedangkan Lampung Barat menjadi daerah dengan pertumbuhan investasi terendah.

Samsurijal menjelaskan, industri makanan masih menjadi sektor penyumbang investasi terbesar di Lampung sepanjang semester I 2026. Setelah itu diikuti sektor pertambangan, energi dan kelistrikan, serta sektor-sektor pendukung ketahanan pangan seperti pertanian, perikanan, dan peternakan.

"Industri makanan masih menjadi sektor investasi terbesar. Kemudian disusul pertambangan, energi dan kelistrikan. Setelah itu sektor-sektor yang mendukung ketahanan pangan juga terus mengalami peningkatan," jelasnya.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Lampung tengah menyiapkan proyek strategis pengembangan ekosistem bioetanol dengan nilai investasi diperkirakan mencapai Rp2,5 triliun.

Menurut Samsurijal, lokasi proyek telah ditinjau pemerintah pusat dan dipersiapkan di Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan, serta Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, menggunakan lahan milik pemerintah daerah dan PTPN.

"Insyaallah dalam waktu dekat akan dilakukan groundbreaking oleh pemerintah pusat. Jika investasi ini mulai terealisasi tahun ini, nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp2,5 triliun," ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah ketidakpastian ekonomi global, Pemprov Lampung terus berupaya menjaga iklim investasi tetap kondusif. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal juga terus mengarahkan seluruh perangkat daerah untuk memberikan kepastian layanan serta kemudahan bagi para investor.

"Pak Gubernur selalu mengarahkan agar kita mampu memberikan keyakinan kepada para investor bahwa Lampung merupakan salah satu daerah yang sangat potensial dan menjadi magnet investasi, khususnya pada tahun 2026," tutupnya. (**)

Berikan Komentar