BACAGEH, Pringsewu--Dini hari, 6 November 1945. KH Gholib melangkah meninggalkan tempat penahanannya. Setelah 15 hari mendekam di tahanan tentara Belanda, ulama sekaligus pejuang asal Pringsewu itu akhirnya dibebaskan. Namun, kebebasan itu hanya berlangsung beberapa saat. Baru beberapa langkah meninggalkan penjara, peluru tentara Belanda menghantam tubuhnya dari belakang. Gholib gugur. Perjuangannya mempertahankan kemerdekaan berakhir di ujung senjata penjajah.
KH Gholib bukan ulama yang hanya berjuang melalui dakwah dan pendidikan. Ia juga mengangkat senjata ketika penjajah menindas rakyat. Perlawanan itu telah dimulainya sejak masa pendudukan Jepang. Perjuangan berlanjut ketika Belanda kembali berusaha menguasai Indonesia setelah kemerdekaan.
Pada masa pendudukan Jepang, Gholib tidak tinggal diam melihat rakyat ditindas, disiksa, dan diperas. Ia menyiapkan pasukan untuk mengusir tentara Jepang dari Pringsewu. Dengan persenjataan seadanya, pasukan KH Gholib terus menyerang basis pertahanan Jepang. Mereka hanya mengandalkan pedang, golok, keris, dan bambu runcing.
Sikap kerasnya terhadap penjajah membuat militer Jepang berkali-kali menangkap Gholib. Jepang khawatir pengaruhnya sebagai ulama yang disegani dapat memicu perlawanan lebih luas. Ia juga menolak ajakan Jepang untuk memberi hormat pada Matahari (Dewa).
Perjuangan Gholib tidak berhenti setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan Belanda kembali masuk ke Indonesia, ia kembali mengorganisasi kekuatan rakyat.
Dari kalangan anak didiknya, Gholib membentuk pasukan Sabilillah dan Hizbullah. Para santri tidak hanya dibekali ilmu agama. Mereka juga dilatih menjadi pejuang dan dipersiapkan bergabung dengan kekuatan pertahanan rakyat, termasuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).
Baca juga: Diusulkan Jadi Pahlawan Daerah Lampung
Sejumlah prajurit yang menjadi rekan seperjuangannya turut memberikan pelatihan militer kepada para santri. Saat Belanda melancarkan Agresi Militer II, lingkungan pendidikan milik Gholib menjadi salah satu tempat penempatan pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI).
Sejumlah tokoh militer pernah bermukim di tempat itu, di antaranya: Kapten Alamsyah Ratuprawiranegara, yang kelak pernah menjabat Menteri Agama dan duta besar Republik Indonesia untuk Belanda, serta Mayor Effendy.
Dalam perjuangan tersebut, Gholib dipercaya memimpin pasukan gerilya. Perlawanan bahkan meluas hingga Baturaja dan Martapura, Sumatera Selatan. Pada 8 Agustus 1947 hingga 20 Oktober 1948, pasukan Sabilillah dan Lasykar Hizbullah yang dipimpin Gholib bersama Kapten Alamsyah Ratuprawiranegara terlibat pertempuran sengit melawan Belanda. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
Perlawanan terus berlanjut. Pada 27 November 1949, setelah perundingan antara tentara Belanda dan delegasi Republik Indonesia di Kotabumi, Lampung Utara, tersiar kabar Belanda kembali memasuki Bandarlampung dan wilayah Gadingrejo.
Kabar itu membuat Gholib dan para pejuang bersiaga. Mereka kemudian menghancurkan sebuah jembatan utama untuk menghambat pergerakan pasukan Belanda menuju Pringsewu. Namun, Belanda mengubah arah serangan melalui Kedondong dan Pagelaran. Pasukan penjajah mengepung wilayah persembunyian para pejuang. Tembakan dilepaskan bertubi-tubi. Korban kembali berjatuhan.
Membangun Pendidikan Islam
Perjuangan Gholib tidak hanya tercatat di medan pertempuran. Ia juga meninggalkan jejak besar dalam pendidikan Islam di Pringsewu. Cucunya, KH Syamsul Ma'arif, mengenang Gholib sebagai ulama besar yang disegani masyarakat. Keberaniannya menghadapi penjajah Jepang dan Belanda membuat namanya dikenal luas.
Menurut Syamsul, kakeknya merupakan komandan pasukan Hizbullah yang memiliki pengaruh kuat. Namun, Gholib tidak hanya mengabdikan hidupnya untuk perjuangan bersenjata. Ia juga membangun pendidikan bagi masyarakat.
Pengabdiannya dimulai dari majelis taklim. Seiring bertambahnya jumlah masyarakat yang belajar, Gholib mendirikan madrasah sederhana dengan tiga ruang belajar.
Bangunannya jauh dari kata layak. Lantainya masih tanah. Dindingnya terbuat dari geribik dan atapnya genteng. Madrasah itu awalnya hanya mampu menampung sekitar 20 santri.
"Madrasah yang didirikan si mbah kakung itu sederhana dan cukup untuk belajar 20 orang. Bangunan itu terdiri atas tiga lokal berlantai tanah, berdinding geribik dan beratap genteng," tutur Syamsul.
Guru pertama di madrasah tersebut adalah H.M. Nuh, yang berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Meski berada dalam situasi penjajahan Jepang, kegiatan belajar tetap berjalan. Bahkan, madrasah itu berkembang pesat. Jumlah santrinya meningkat hingga lebih dari seribu orang.
Mereka datang dari berbagai daerah. Tidak hanya Lampung, tetapi juga Palembang, Bengkulu, hingga Jambi. Para pengajar pun berdatangan dari Jawa dan sejumlah wilayah di Lampung.
Pendidikan yang dikembangkan Gholib tidak sebatas penguasaan ilmu agama. Para santri juga dididik menguasai bahasa Arab, memahami ilmu nahwu dan sharaf, serta membaca Al-Qur'an dengan fasih dan merdu.
Disiplin ibadah menjadi bagian penting dalam pendidikan. Santri dan guru diwajibkan menjaga waktu salat serta melaksanakan salat berjamaah di masjid. Setiap malam Jumat, mereka menggelar pembacaan Barzanji dan Marhaban.
Ada hal lain yang membuat pendidikan Gholib istimewa. Seluruh santri dapat belajar tanpa dipungut biaya. Gholib bahkan menanggung kebutuhan para guru. Mulai dari honor hingga makan sehari-hari selama mengajar. Jika guru atau keluarganya sakit, mereka juga mendapat pengobatan gratis di poliklinik miliknya.
Kepedulian itu tidak hanya diberikan kepada lingkungan pesantren. Masyarakat umum juga bisa datang untuk meminta doa atau bantuan pengobatan. Mereka bahkan diperbolehkan menginap selama beberapa hari tanpa dipungut biaya.
Diburu dan Gugur
Besarnya pengabdian Gholib tidak membuatnya luput dari kekejaman perang. Ketika Belanda terus memburunya, ia bersama para pengikutnya terpaksa berpindah-pindah tempat persembunyian di hutan. Belanda juga merusak dan menjarah berbagai aset miliknya. Pesantren, rumah, mobil, pabrik tapioka, pabrik padi, hingga poliklinik dihancurkan.
Seorang ustaz yang dikenal dekat dengannya bahkan tewas dibunuh karena menolak memberitahukan lokasi persembunyian sang kiai. Di tengah pelarian, Gholib tetap memikirkan nasib masyarakat Pringsewu. Setelah beberapa waktu bersembunyi, ia akhirnya memutuskan pulang seusai salat Idulfitri.
Keputusan itu didorong kerinduannya untuk kembali bersama masyarakat. Kondisi kesehatannya juga terus menurun. Ia bahkan sempat mengalami kelumpuhan. Namun, kepulangannya segera diketahui pasukan Belanda. Gholib disergap pasukan Macan Loreng, pasukan khusus yang menjadi kaki tangan penjajah.
Ia kemudian dibawa ke Gereja Katolik Pringsewu yang saat itu digunakan sebagai markas tentara Belanda. Selama 15 hari, Gholib mendekam dalam tahanan. Ia akhirnya dibebaskan setelah tercapai kesepakatan gencatan senjata. Namun, kebebasan itu justru menjadi akhir perjalanan hidupnya.
Dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, 6 November 1945, Gholib meninggalkan tempat penahanan. Belum jauh melangkah, tembakan dari belakang menghantam tubuhnya. Ia gugur seketika.
Kisah KH Gholib menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di medan pertempuran. Ada perjuangan melalui pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia mendidik ribuan santri, membantu warga tanpa pamrih, mengorganisasi kekuatan rakyat, dan memimpin perlawanan bersenjata.
Gholib mungkin telah gugur. Namun, jejak pengabdiannya tetap hidup dalam sejarah masyarakat Pringsewu. Ia bukan sekadar ulama yang mengangkat senjata. Ia adalah pendidik yang berjuang demi agama, rakyat, dan tanah air. (**)
Berikan Komentar