BACAGEH, Gedongtataan--Prestasi bukan garis akhir. Itu pintu menuju perjalanan yang lebih panjang. Pesan tersebut tergambar dari perjalanan Muli Salma Atsila. Siswi kelas XII SMA Negeri 1 Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung itu membuktikan, gagasan, ketekunan, dan keberanian berkarya mampu membawanya bersaing di panggung nasional.
Sorot kamera telepon genggam mengarah kepadanya. Dari sudut ruangan sekolah, aktivitas Muli terpantau saat mengikuti lomba Cipta Cerpen FL3SN 2026, secara daring.
Pukul 07.00 WIB, jemarinya mulai menari di atas papan ketik komputer jinjing. Ide demi ide mengalir. Kata-kata tersusun menjadi kalimat. Kalimat berkembang menjadi paragraf. Tiga jam kemudian, sebuah cerpen rampung ditulis. Judulnya: Impresi Sekali Waktu.
Melalui cerita itu, Muli mengangkat persoalan pergeseran norma budaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Ia menyoroti dampak negatif penggunaan gawai ketika teknologi tidak dimanfaatkan secara bijak.
Bukan sekadar merangkai cerita, Muli berusaha menyampaikan pesan. Kemajuan teknologi semestinya berjalan beriringan dengan kesadaran menjaga nilai-nilai budaya.
Karya tersebut mengantarkan Muli meraih Juara Harapan III Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FL3SN) tahun 2026 kategori Cipta Cerpen.
Hasil itu mungkin belum menempatkannya di podium tertinggi. Namun, bagi Muli, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang seorang penulis muda.
Perjalanan Muli tidak serta merta langsung menapak panggung nasional. Tiga bulan sebelumnya, ia lebih dahulu menaklukkan kompetisi tingkat Provinsi Lampung.
Melalui cerpen berjudul Kartografi Sunyi, remaja kelahiran Blambanganumpu, Kabupaten Waykanan, itu meraih juara pertama lomba Cipta Cerpen FL3SN tingkat provinsi.
Baca juga: Muli Salma Wakili Lampung di Tingkat Nasional
Kemenangan tersebut membuka jalan menuju kompetisi nasional. Muli mendapat kesempatan membawa nama Lampung, adu skill dengan puluhan peserta dari seluruh provinsi di Indonesia. Namun, panggung nasional menghadirkan tantangan berbeda. Persaingan semakin ketat. Peserta datang dengan gagasan, pengalaman, dan kemampuan menulis yang beragam. Muli akhirnya meraih Juara Harapan III.
Dia memang belum menjadi yang terbaik. Tetapi, dia telah melewati satu tahapan penting: berani membawa karyanya bersaing di tingkat yang lebih luas.
Di situlah nilai sebuah prestasi tidak semata-mata ditentukan oleh peringkat. Ada keberanian untuk mencoba. Ada kemauan untuk belajar. Ada pengalaman yang akan menjadi bekal, bagi langkah berikutnya.
Kepala SMAN 1 Gedongtataan Sylvia Juita bangga atas capaian tersebut. Sylvia mengatakan, Muli telah membuktikan, pelajar daerah memiliki peluang untuk bersaing di tingkat nasional.
"Tentu kami merasa bangga. Siswi kami telah berhasil mewakili Lampung di kancah nasional dan meraih Juara Harapan III," kata Sylvia, Senin (12-10-2026).
Capaian itu, lanjut dia, tidak terlepas dari proses pendampingan yang dilakukan sekolah bersama Balai Bahasa Lampung, selama kurang lebih dua bulan.
Pendampingan tersebut meliputi pendalaman tema dan penguatan teknik penulisan cerpen. Muli mendapat ruang untuk mengembangkan gagasan, memperkuat alur cerita, dan mempertajam pesan yang ingin disampaikan.
Proses itu menjadi bukti, bahwa bakat perlu dirawat. Kemampuan menulis tidak cukup hanya mengandalkan inspirasi. Menulis membutuhkan latihan, arahan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Sylvia berharap, prestasi tersebut menjadi pemantik semangat bagi Muli untuk terus berkarya. "Selamat untuk ananda Muli. Semakin giat berlatih menulis, gali potensi untuk terus mengukir prestasi," pesanya.
Hal senada disampaikan Guru Bidang Studi Seni Budaya SMAN 1 Gedongtataan Prasojo. Dia mengatakan sekolah telah berupaya maksimal mempersiapkan Muli menghadapi kompetisi nasional.
Hasil yang diraih memang belum sepenuhnya sesuai harapan. Namun, sekolah tetap mengapresiasi perjuangan Muli. "Persiapan sudah maksimal dan kami puas dengan posisi Juara Harapan III, meskipun semula harapan kami bisa masuk tiga besar," katanya.
Menurut Prasojo, kesempatan tampil di tingkat nasional merupakan pengalaman berharga. Muli telah berhadapan dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Singapura.
Pengalaman itu semestinya tidak membuat Muli berpuas diri. Apa lagi berhenti menulis. Sebaliknya, pengalaman bersaing di pentas nasional harus menjadi ruang untuk mengenali kekuatan, sekaligus memperbaiki kekurangan.
"Kami tetap bangga karena ini level nasional. Siswa kami sudah bersaing dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang berasal dari Malaysia dan Singapura," terangnya.
Pesan Prasojo sederhana: teruslah menulis, sebab kemampuan merangkai cerita tidak tumbuh dalam semalam. Seorang penulis perlu melatih kepekaan, mengamati kehidupan, membaca banyak hal, dan berani menggali gagasan yang berbeda.
Setiap cerita bisa menjadi ruang belajar. Setiap kompetisi memberi pengalaman. Bahkan, hasil yang belum sesuai harapan dapat menjadi alasan untuk tumbuh lebih kuat.
Prestasi bukan sekadar berdiri di podium tertinggi dan menggakat piala. Ada proses panjang yang patut dihargai. Ada keberanian untuk mencoba. Ada potensi yang tumbuh melalui latihan dan pendampingan.
FL3SN 2026 diikuti 806 peserta yang berkompetisi dalam 16 kategori lomba. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung secara daring pada 5–10 Oktober 2026. (**)
Laporan: Rifat Arief
Editor: Nizar
Berikan Komentar