Rumah Roberto, Jejak Kolonial yang Sekarat di Bagelen

Rumah Roberto, Jejak Kolonial yang Sekarat di Bagelen
umah Roberto saksi bisa perjalanan desa transmigrasi pertama di Indonesia (Foto: Rifat)

BACAGEH, Gedongtataan--Di tengah wajah Desa Bagelen yang terus berubah, sebuah rumah tua masih bertahan melawan waktu. Dinding batunya mulai kusam. Sejumlah bagian bangunan melapuk. Halamannya ditumbuhi semak. Di lantai dua, kelelawar kini menjadikan ruang-ruang kosong sebagai tempat bersarang.

Rumah itu dikenal warga sebagai Rumah Roberto. Berdiri di Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, bangunan bergaya kolonial Belanda tersebut dipercaya berkaitan dengan jejak awal transmigrasi di Bagelen pada 1905.

Lebih dari seabad berlalu, sebagian besar bangunan-bangunan tua yang dahulu menghiasi kawasan itu, telah hilang. Ada yang dibongkar, berubah fungsi, atau runtuh dimakan usia. Rumah Roberto menjadi pengecualian.

Bangunan itu mungkin menjadi salah satu jejak fisik terakhir yang tersisa dari masa awal Bagelen. Dari luar, karakter bangunan lamanya masih kentara. Dinding batu, tata ruang dan konstruksinya berbeda jauh dengan rumah-rumah modern.

Di dalam, sejumlah ruang masih bertahan: ruang depan, ruang tamu, ruang keluarga, dua kamar tidur, kamar mandi dengan bak berendam, hingga dapur. Lantai bermotif kayu dan sejumlah elemen interior lama masih menyimpan suasana masa lalu. Namun, waktu tak lagi bersahabat.

Kamar mandi dan bak berendam mulai rusak. Sumur tua di sekitar rumah tak lagi terawat. Lantai dua terbengkalai. Rumah yang dahulu dirawat kini perlahan berubah menjadi bangunan renta.

Jejak yang Tersisa dari Ingatan Warga

Bagi Wagiah, Rumah Roberto bukan bangunan asing. Perempuan yang pernah bekerja dan tinggal di lingkungan rumah tersebut, mengenalnya sejak masih kecil. Ingatannya tentang rumah itu bahkan terbentang hingga puluhan tahun.

Sekitar dekade 1980-an, kata Wagiah, rumah tersebut sudah ditempati seorang pejabat di Lampung. Setelah itu, kepemilikannya berpindah hingga kemudian berada di tangan seorang warga Italia bernama Roberto. “Kalau sekitar 80-an sudah ada pejabat Lampung di situ. Kemudian dijual sama Roberto,” kata Wagiah, Selasa (11-8-2026).

Wagiah kemudian menjadi bagian dari perjalanan rumah tersebut. Bersama suaminya, dia bekerja di lingkungan Rumah Roberto sejak 1991 hingga sekitar 2000 atau 2001.

Suaminya bertugas merawat rumah, halaman dan kebun. “Suamiku kerja dari 1991 sampai sekitar 2001. Dulu masih bagus,” tuturnya.

Roberto, menurut Wagiah, tidak menetap sepanjang waktu di Bagelen. Dia lebih banyak bekerja di luar kota dan datang ketika berlibur. Rumah itu pun sering kosong berbulan-bulan. “Kalau berlibur ke sini. Kalau pergi, lama, beberapa bulan baru pulang ke sini,” ungkap Wagiah.


Satu-Satunya yang Masih Bertahan

Nilai Rumah Roberto bukan semata pada usianya. Bangunan itu menjadi penting karena jejak fisik masa lalu Bagelen kini nyaris tak tersisa. “Setahu saya (bangunan rumah tua) tidak ada lagi. Cuma ini,” kata Wagiah.

Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa tipisnya batas antara sejarah dan kehilangan. Bagelen memiliki perjalanan panjang sebagai salah satu kawasan transmigrasi pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Namun, ketika kawasan berkembang, bangunan-bangunan lama ikut menghilang. Rumah Roberto justru masih berdiri.

Di sekitar rumah, warga juga mengenal sebuah sumur tua yang diyakini telah ada sejak masa kolonial. Tak jauh dari sana terdapat makam keluarga Belanda, berdekatan dengan Jembatan Gapura Gedongtataan. Namun, siapa orang Belanda yang pertama menempati rumah itu dan apa fungsi awal bangunannya belum diketahui secara pasti.

Sebagian cerita bertahan bukan melalui dokumen, melainkan lewat ingatan warga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Antara Sejarah dan Cerita

Seperti banyak bangunan tua lainnya, Rumah Roberto menyimpan dua lapisan cerita: fakta yang bisa ditelusuri dan kisah yang hidup di tengah masyarakat. Wagiah mengaku pernah mengalami sejumlah kejadian yang menurutnya sulit dijelaskan ketika berada di lingkungan rumah tersebut.

Kisah semacam itu merupakan pengalaman pribadi dan cerita turun-temurun warga. Karena itu, tidak serta-merta dapat ditempatkan sebagai bagian dari sejarah bangunan. Lebih nyata adalah jejak yang masih bisa dilihat hari ini.

Dinding batu yang bertahan. Ruang-ruang lama yang belum berubah. Bak berendam yang merekam gaya hidup masa lalu. Sumur tua. Serta lingkungan sekitar yang masih menyimpan serpihan peninggalan sejarah. Semuanya menjadi potongan kecil dari perjalanan panjang Bagelen.

Sebelum Tinggal Cerita

Wagiah terakhir cukup lama bekerja di Rumah Roberto pada awal 2000-an. Setelah itu, perawatan rumah tak lagi berlangsung seperti sebelumnya. Hubungan dengan keluarga yang memiliki keterikatan dengan rumah tersebut masih terjaga. Sesekali, anggota keluarga masih datang ke Bagelen. Namun, kondisi rumah kini jauh berbeda.

Sudut-sudut bangunan mulai lapuk. Semak memenuhi halaman. Interior lama masih bertahan, tetapi tak lagi serapi dulu. Waktu perlahan menggerusnya.

Tanpa perawatan dan upaya pelestarian, Rumah Roberto bukan mustahil akan menyusul bangunan-bangunan tua lain yang telah lebih dulu hilang dari Bagelen.

Bagi Wagiah, rumah itu bukan sekadar bangunan tua. Di sana ada bagian dari perjalanan hidupnya. Ada ingatan tentang Bagelen pada masa lalu. Ada pula jejak sejarah yang mungkin tak akan mudah ditemukan kembali, jika bangunan itu lenyap.

Lebih dari seabad setelah Bagelen berkembang sebagai kawasan transmigrasi pada masa kolonial, Rumah Roberto masih berdiri. Tua, sunyi, dan kian renta—menunggu apakah akan diselamatkan, atau akhirnya hanya menjadi cerita. (**)

Laporan: Rifat Arief

Editor: Nizar

Berikan Komentar