BACAGEH, Bandarlampung--Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dibuka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung mulai mendapat sambutan dari masyarakat. Pada gelombang pertama pendaftaran, tercatat 35 orang mendaftar dan 29 di antaranya dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti proses pembelajaran.
Para peserta yang lolos seleksi administrasi itu dalam waktu dekat akan menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai tahapan awal sebelum kegiatan belajar dimulai.
Kepala Disdikbud Lampung Thomas Amirico mengatakan, jumlah pendaftar pada tahap perdana memang belum besar. Namun, hal tersebut menjadi sinyal positif bahwa program yang ditujukan bagi masyarakat putus sekolah mulai dikenal.
"Sebanyak 35 orang mendaftar di empat sekolah penyelenggara PJJ. Setelah diverifikasi, ada 29 orang yang memenuhi persyaratan dan akan mengikuti MPLS," katanya, Senin (3-8-2026).
Disdikbud tidak berhenti pada gelombang pertama. Pendaftaran tahap kedua dijadwalkan kembali dibuka pada Agustus 2026. Saat ini, dinas masih menyusun jadwal pelaksanaannya agar proses penerimaan peserta berjalan lebih efektif.
Thomas berharap, masyarakat yang belum sempat mendaftar dapat memanfaatkan kesempatan tersebut.
Menurut dia, PJJ dirancang untuk memberikan akses pendidikan bagi warga yang telah bekerja sehingga kegiatan belajar tidak mengganggu aktivitas mencari nafkah.
"Gelombang kedua segera kami buka. Kami ingin masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan tetap memiliki kesempatan untuk sekolah tanpa harus meninggalkan pekerjaannya," terangnya.
Program PJJ di Lampung saat ini dilaksanakan di empat sekolah, yakni SMA Negeri 1 Pagardewa, SMA Negeri 1 Gunungsugih, SMA Negeri 2 Bandarlampung dan SMA Negeri 1 Rawajitu Selatan. Sementara SMA Negeri 2 Bandarlampung ditetapkan sebagai sekolah induk.
Dia menjelaskan, program tersebut tidak dapat diikuti oleh lulusan baru. Calon peserta diwajibkan memiliki jeda minimal satu tahun sejak lulus atau berhenti sekolah. Selain itu, seluruh dokumen administrasi, termasuk ijazah, harus telah dilengkapi. Program ini diprioritaskan bagi masyarakat berusia sekitar 18 hingga 19 tahun.
Dia menambahkan, pelaksanaan MPLS kemungkinan diawali dengan pertemuan tatap muka agar peserta dapat mengenal lingkungan sekolah dan tenaga pendidik. Setelah itu, kegiatan belajar akan didominasi pembelajaran secara daring.
"Pertemuan awal kemungkinan dilakukan secara langsung sebagai perkenalan. Selanjutnya proses belajar lebih banyak dilakukan secara online," jelasnya.
Menurut Thomas, tantangan terbesar dalam menjalankan program ini bukan pada sistem pembelajarannya, melainkan membangun kembali semangat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan. Sebab, sebagian besar calon peserta sudah memiliki pekerjaan, bahkan telah berkeluarga.
Karena itu, Disdikbud memastikan sistem belajar dibuat fleksibel sehingga peserta tetap dapat membagi waktu antara bekerja dan menempuh pendidikan.
"Kami ingin meyakinkan masyarakat bahwa PJJ tidak akan mengganggu pekerjaan mereka. Justru program ini memberi kesempatan untuk tetap bekerja sambil menyelesaikan pendidikan menengah," tutupnya. (**)
Berikan Komentar