BACAGEH, Jakarta--Cangget Bakha bukan sekadar tarian adat, melainkan identitas budaya dan perekat sosial masyarakat Lampung, khususnya yang beradat Pepadun.
Penegasan tersebut disampaikan Bupati Lampung Utara Hamartoni Ahadis saat presentasi Anugerah Kebudayaan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat. Presentasi berlangsung di Gedung PWI Pusat, Jakarta, Jumat (9-1-2026).
Anugerah Kebudayaan PWI akan menjadi rangkaian agenda puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, di Kota Serang, Provinsi Banten, 9 Februari mendatang.
Selama lebih kurang satu jam, Bupati Lampung Utara Hamartoni Ahadis memaparkan nilai-nilai dan upaya pelestarian budaya Cangget Bakha, di hadapan dewan juri: Budayawan Sudjiwo Tejo dan Akademisi IKJ Nungki Kusumastuti.
Bupati memaparkan, Cangget Bakha lahir dari tradisi masyarakat sebagai perayaan dan ungkapan rasa sukur atas hasil panen yang melimpah. "Cangget Bakha digelar pada malam bulan purnama. Prosesi ini sarat nilai kebersamaan, etika, dan gotong royong. Cangget Bakha juga menjadi ruang silaturahmi sekaligus ajang perkenalan muli-mekhanai (gadis-bujang), tanpa meninggalkan nilai-nilai adat," kata bupati.
Hingga kini Cangget Bakha tetap lestari dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Tradisi tersebut masih rutin digelar, termasuk saat perayaan Idul Fitri, khususnya sebagai momentum temu kangen perantau untuk memperkuat ikatan sosial masyarakat.
"Cangget Bakha adalah simbol rasa syukur dan jembatan antar generasi. Nilai-nilai di dalamnya menjadi akar kehidupan sosial masyarakat Lampung Utara,” terangnya.
Dalam konteks pemajuan kebudayaan, bupati menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan lokal sebagai landasan pelaksanaan program pembangunan.
Bentuk komitmen tersebut, antara lain dilakukan dengan memfasilitasi berbagi kegiatan seni budaya, penguatan komunitas budaya, serta pelibatan generasi muda agar tradisi tetap berkelanjutan.
Usai pemaparan dilanjutkan sesi diskusi dengan dewan juri, untuk menguatkan substansi presentasi.
Budayawan Sudjiwo Tejo mengapresiasi pemaparan tersebut, sekaligus mendorong agar pelestarian budaya di Kabupaten Lampung Utara diiringi dengan penerapan bahasa daerah Lampung dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak tergerus zaman.
Hadir mendampingi bupati dalam presentasi itu: Kepala Dinas Kominfo Gunaido Uthama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Perdana Putra, dan pengurus Dewan Kesenian Lampung Utara. (**)
Laporan: Yansen
Editor: Nizar
Berikan Komentar