Dampak Erupsi Anak Gunung Krakatau, 6.671 Warga Lampung Alami ISPA

Dampak Erupsi Anak Gunung Krakatau, 6.671 Warga Lampung Alami ISPA

BACAGEH, Bandarlampung--Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Lampung meningkat sejak terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Lampung, pada periode tanggal 4 hingga 8 Desember 2026 tercatat kasus ISPA mencapai 6.671 orang.

Hal itu disampakan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Djohan Lius saat memberikan keterangan pers di Kantor BPBD setempat, Rabu (9-9-2026).

"Berdasarkan data pemantauan penyakit yang berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB), total kasus ISPA tercatat sebanyak 6.671 kasus," kata Djohan.

Selain ISPA, hasil pemantauan juga menemukan 236 kasus influenza-like illness (ILI) dan 58 kasus pneumonia.

Gangguan kesehatan lain yang berpotensi berkaitan dengan paparan abu vulkanik juga mulai terdeteksi. Dinas Kesehatan mencatat 250 kasus keluhan penyakit kulit seperti gatal-gatal dan kudis, 219 kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), 194 kasus sakit mata, 182 kasus asma, serta 40 kasus heat stroke.

Djohan mengatakan, pemerintah daerah telah memperkuat kesiapsiagaan pelayanan kesehatan menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung telah menerbitkan surat edaran terkait kewaspadaan dan langkah antisipasi dampak erupsi terhadap kesehatan masyarakat.

Surat tersebut menjadi pedoman bagi fasilitas kesehatan di kabupaten/kota dalam menghadapi kemungkinan peningkatan gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Sebanyak 15 kabupaten/kota juga telah dibagi dalam lima regional sistem rujukan. Setiap fasilitas kesehatan diminta meningkatkan kesiapan, mulai dari puskesmas pembantu, puskesmas hingga rumah sakit umum daerah.

Lima rumah sakit ditetapkan sebagai rujukan regional, yakni Rumah Sakit A Dadi Tjokrodipo di Bandarlampung, Rumah Sakit Pringsewu, Rumah Sakit Alimuddin Umar di Lampung Barat, RSUD Menggala di Tulang Bawang, serta RSUD Ahmad Yani di Kota Metro.

Untuk rujukan tingkat tertinggi, disiapkan tiga rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Lampung, yakni Rumah Sakit Bandar Negara Husada, Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek dan Rumah Sakit Alamsyah Ratu Perwiranegara.

Tak hanya memperkuat fasilitas pelayanan, Dinas Kesehatan juga meningkatkan surveilans untuk mendeteksi lebih cepat kemungkinan munculnya gangguan kesehatan yang berkaitan dengan erupsi.

Pemantauan difokuskan terhadap sejumlah penyakit yang berpotensi meningkat akibat paparan abu vulkanik, termasuk ISPA, ILI, pneumonia, iritasi mata, asma, penyakit kulit dan PPOK.

"Kelompok pertama merupakan penyakit yang berpotensi menular, yakni ISPA, penyakit menyerupai influenza atau influenza-like illness (ILI), serta pneumonia. Sedangkan kelompok kedua merupakan penyakit yang terdampak paparan abu vulkanik tetapi tidak berpotensi menular, seperti asma, penyakit kulit, sakit mata dan PPOK," jelasnya.

Menurut dia, pemantauan angka kesakitan diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak.

"Kami terus memantau angka-angka kesakitan untuk penyakit-penyakit yang terdampak. Ini penting untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak," katanya.

Upaya penanganan juga dilakukan langsung di sejumlah wilayah. Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela telah meninjau daerah terdampak aktivitas Gunung Anak Krakatau, masing-masing di Kabupaten Lampung Selatan pada 6 September dan Kabupaten Pesawaran pada 8 September 2026.

Dalam kunjungan tersebut, bantuan berupa masker, oksigen konsentrator hingga alat pelindung diri (APD) atau hazmat disalurkan untuk memperkuat kesiapan fasilitas dan petugas kesehatan.

Pelayanan kesehatan di sejumlah puskesmas juga dipantau secara langsung untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh pelayanan di tengah kondisi erupsi.

Di sisi lain, petugas kesehatan juga diminta menjaga kondisi fisik selama menjalankan penanganan dampak erupsi.

"Petugas kesehatan juga harus memperhatikan kesehatan diri. Jangan sampai petugas kelelahan kemudian sakit dan akhirnya mengganggu pelayanan kepada masyarakat," kata Djohan.

Dinas Kesehatan memastikan pemantauan kesehatan masyarakat akan terus dilakukan mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi resmi pemerintah dan instansi terkait serta menggunakan masker ketika beraktivitas di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik. (**)

Berikan Komentar