BACAGEH, Lampung-- Deretan kandang ayam berdiri rapi di atas lahan seluas sekitar 2.500 meter persegi di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Negerikaton, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Dari tempat inilah, Sanjaya, Kepala Desa Tanjung Rejo, merintis usaha ternak ayam Pakoy yang kini dikenal di kalangan pencinta ayam laga, bahkan hingga luar daerah.
Awalnya, beternak ayam hanya sebatas hobi. Namun sejak 2019, Sanjaya mulai serius mengembangkan ayam Pakoy melalui proses pembibitan dan perawatan intensif. Waktu itu, pandemi COVID-19 membatasi banyak aktivitas, tetapi justru membuka peluang baru baginya.
“Awalnya memang hobi ayam. Karena waktu itu banyak di rumah, akhirnya fokus mengurus ayam dan terpikir untuk mengembangbiakkan,” ujar Sanjaya saat ditemui, Sabtu (20/12).
Kini, di kandangnya terdapat sekitar 400 ekor ayam, mayoritas jenis Pakoy. Ayam-ayam tersebut tersebar di berbagai kandang, mulai dari empat kandang anakan, 10 kandang breeding, hingga 23 kandang pembesaran. Selain Pakoy, Sanjaya juga memelihara beberapa jenis lain seperti Pama dan Mangon, meski jumlahnya terbatas.
Ayam Pakoy dikenal memiliki postur tinggi, badan besar, tulang kuat, serta ciri khas sisik kaki unik seperti sisik beling, salak, dan naga. Karakter fisik dan gaya tarung inilah yang membuatnya semakin diminati.
“Sekarang Pakoy lagi booming. Mainnya bagus, pukulannya besar, lock brakot. Itu yang banyak dicari penghobi,” katanya.
Tak hanya merawat fisik, Sanjaya juga memberi perhatian khusus pada kesehatan dan stamina ayam. Perubahan iklim menjadi tantangan tersendiri, terutama di akhir tahun. Untuk mengantisipasi penyakit, vaksinasi rutin pun dilakukan.
“Biasanya kendala di iklim. Makanya kita pakai vaksin ND supaya ayam tetap sehat,” ujarnya.
Perawatan harian dilakukan oleh tiga orang karyawan yang khusus menangani ratusan ayam tersebut. Setiap pagi, ayam diberi puding racikan alami yang terdiri dari kurma, telur puyuh, pisang, dan jangkrik. Sementara pakan utama diramu sendiri dari jagung Madura, kacang hijau, beras merah, hingga padi putih.
“Tujuannya supaya stamina ayam tetap bagus, badannya stabil, dan nggak kegemukan. Jadi kondisinya benar-benar fit,” jelas Sanjaya.
Usaha ini perlahan membuahkan hasil. Dalam sebulan, Sanjaya bisa menjual hingga hampir 50 ekor ayam, dengan sekali pengiriman mencapai 10 ekor ayam berusia 6 hingga 7 bulan. Harga jualnya pun bervariasi, mulai dari Rp500 ribu untuk ayam muda hingga Rp5 juta per ekor untuk ayam dewasa dengan kualitas unggulan.
Pembelinya datang dari berbagai daerah. Selain wilayah Lampung seperti Way Kanan, Tulang Bawang, Mesuji, dan Liwa, ayam Pakoy dari Desa Tanjung Rejo juga telah dikirim ke Medan dan Surabaya.
“Rata-rata pembeli datang langsung ke kandang. Tapi ada juga yang pesan lewat telepon atau WhatsApp, nanti kita kirim,” katanya.
Dari penjualan tersebut, Sanjaya mampu meraup omzet ratusan juta rupiah per bulan, dengan penghasilan bersih di kisaran puluhan juta rupiah, setelah dikurangi biaya pakan dan gaji karyawan.
Di tengah kesibukannya sebagai peternak, Sanjaya tetap menjalankan perannya sebagai kepala desa. Ia juga mengelola kebun jagung yang sebagian hasilnya dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.
Bagi Sanjaya, beternak ayam Pakoy bukan sekadar soal keuntungan, melainkan tentang konsistensi dan kesabaran. Dari kandang sederhana di desa, ia membuktikan bahwa hobi yang ditekuni dengan serius bisa tumbuh menjadi usaha bernilai tinggi.
Laporan/Editor: Ardiansyah
Berikan Komentar