Dua Emas Anggar Harumkan Nama Lampung, Beban Biaya Ditanggung Keluarga

Dua Emas Anggar Harumkan Nama Lampung, Beban Biaya  Ditanggung Keluarga
Atlet anggar Lampung berjaya di turnamen West Java Fencing Challenge 2026 (Foto: Humas KONI Lampung)

BACAGEH, Bandarlampung--Prestasi gemilang atlet anggar Lampung di West Java Fencing Challenge 2026 berbanding terbalik dengan dukungan pembiayaan. Di tengah persaingan ketat, atlet Lampung sukses membawa pulang dua medali emas dan satu perunggu dari turnamen yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat. Ironisnya, atlet harus bertanding dengan biaya sendiri.

Dua medali emas dipersembahkan atlet Fencing Development Club (FDC), M. Rafay Alfatih dan Azira Anggareska. Rafay berjaya di kelas floret putra U-8, sedangkan Azira menguasai kategori kadet floret putri.

Satu perunggu diraih Aldila Putri Heraztin dari Andalas Lampung Fencing Club (ALFC) pada kategori kadet degen putri atau women’s cadet epee.

Hasil tersebut membuktikan atlet anggar Lampung mampu bersaing di level antardaerah. Ironisnya, perjuangan menuju podium belum sepenuhnya ditopang pembiayaan yang memadai.

Pelatih FDC Enny Handayani, mengatakan prestasi atletnya lahir dari latihan terukur yang menitikberatkan penguasaan teknik dan kebugaran fisik.

“Porsi latihannya 60 persen teknik dan 40 persen fisik,” kata Enny melalui rilis Humas KONI Lampung, Kamis (15-10-2026).

Latihan digelar empat kali sepekan. Jadwal disesuaikan dengan aktivitas sekolah, agar atlet tetap bisa menjaga prestasi akademik dan konsistensi latihan. Mereka juga mendapat tugas latihan mandiri untuk mempertahankan kemampuan dan kebugaran.

Perjuangan di arena pun tidak mudah. Rafay menghadapi lawan dari sejumlah daerah. Azira juga harus melewati persaingan ketat melawan atlet Sukabumi dan Bandung sebelum menembus partai final.

Di sisi lain, pelatih ALFCbMira Daniaty menyebut, medali perunggu Aldila sebagai modal berharga untuk meningkatkan kemampuan dan menambah pengalaman bertanding.

Namun, persoalan biaya menjadi tantangan tersendiri. Kejuaraan bersifat terbuka (open), sehingga keberangkatan atlet terpaksa dibiayai secara mandiri oleh keluarga masing-masing. Kondisi itu membuat tidak semua atlet andalan ALFC bisa turun bertanding.

Bahkan, sejumlah atlet yang berangkat baru pertama kali merasakan atmosfer kompetisi antardaerah.

Mira berharap, pengalaman tersebut menjadi bekal untuk mengasah mental, menambah jam terbang, dan memperbaiki prestasi pada kejuaraan berikutnya.

Capaian dua emas dan satu perunggu itu menjadi kabar membanggakan bagi olahraga Lampung. Namun, prestasi tersebut sekaligus menyisakan pertanyaan: sampai kapan atlet harus mengandalkan kemampuan keluarga untuk membiayai perjuangan membawa nama daerah ke podium? (**)

Berikan Komentar