BACAGEH, Bandarlampung--Ajakan Sekda Lampung Marindo Kurniawan agar warga tanam cabai di pekarangan disambut getir oleh sebagian petani dan emak-emak. Sebab di balik harga cabai merah yang tembus Rp72.750/kg, ada cerita yang tak muncul di data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS).
“Disuruh nanam sendiri, lah pupuk mahal, bibit susah. Gagal panen sekali, modal habis,” keluh Sumiyati (47) petani cabai di Gedongtataan, Pesawaran, Lampung, Senin (25-5-2026). Sebulan terakhir, kebunnya hanya panen 30% karena hujan tak menentu bikin bunga cabai rontok.
Senada, Warno, petani di Jatiagung Lampung Selatan, mengaku harga tingkat petani tak semanis di pasar. “Cabai merah keriting kami cuma dihargai Rp35 ribu/kg sama pengepul. Sampai pasar jadi Rp60.650. Yang untung siapa?” katanya.
Sementara di dapur, ibu rumah tangga juga pusing. Yuni, warga Telukbetung, terpaksa kurangi cabai di sambal. “Biasa beli Rp5 ribu dapat segenggam, sekarang cuma 7 biji. Anak-anak protes sambalnya nggak pedas,” ujarnya sambil tertawa getir.
Data PIHPS 25/5/2026 memang mencatat lonjakan: cabai merah besar naik 22,99% jadi Rp72.750/kg, cabai merah keriting naik 25,96% jadi Rp60.650/kg. Cabai rawit merah bahkan Rp75.750/kg.
Sekda Marindo menyebut solusi tanam di rumah tangga & lancarkan distribusi. Namun akar masalahnya lebih kompleks. “Tanam di pekarangan bagus untuk edukasi, tapi tak akan nutup defisit pasokan. Masalah utama: 1. Iklim ekstrem bikin gagal panen, 2. Rantai pasok terlalu panjang, 3. Lampung masih defisit cabai dan bawang, tergantung pasokan Jawa.”
Pemerintah daerah disarankan fokus subsidi bibit-pupuk, asuransi gagal panen, dan potong tengkulak dengan BUMDes jadi offtaker.
Kini di satu sisi ada data dan imbauan. Di sisi lain ada petani yang takut tanam karena rugi, dan ibu-ibu yang terpaksa irit sambal. Harga cabai pedas, tapi yang lebih perih: jurang antara kebijakan dan dapur warga. (**)
Liputan/Editor: A. Setyawan
Berikan Komentar